10 Tips Sukses Persiapan Psikotes

N. Arindri Dangkua, M. Psi., Psikolog

Pendahuluan

Berdasarkan data keseluruhan BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2020 dan analisa Kepala BPS terhadap data tersebut, pada bulan April 2020 jumlah perusahaan yang memasang iklan lowongan kerja turun sebesar 70 persen. Jumlah lowongan yang turun tajam berasal dari sektor akomodasi, industri makanan-minuman, sektor perdagangan dan industri pengolahan. Saat itu Kepala BPS melihat ada kemungkinan meningkatnya angka pengangguran di sektor pariwisata termasuk perhotelan, restoran, transportasi, dan sejenisnya terutama di daerah tujuan wisata. Data yang dirilis oleh BPS di bulan Agustus 2020 menyampaikan bahwa terdapat total 29,12 juta orang penduduk usia kerja di Indonesia terkena dampak pandemi COVID-19. Dari data tersebut terdapat 2,56 juta orang pengangguran; 24,03 juta orang bekerja dengan pengurangan jam kerja; 1,77 juta orang sementara tidak bekerja; dan 0,76 juta orang bukan angkatan kerja (Bapak DR. Suhariyanto, Kepala Badan Pusat Statistik Indonesia).

Hampir mirip dengan data BPS, survei yang dilakukan JobStreet Indonesia kepada 5131 pencari kerja dan 486 perekrut tenaga kerja di bulan Oktober 2020 terlihat bahwa 54 persen tenaga kerja terdampak. Dari data tersebut, 35 persen diberhentikan/mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dan 19 persen dirumahkan oleh perusahaan. Selain itu, 43 persen tenaga kerja mengalami pemotongan gaji lebih dari 30 persen selama masa pandemi. Dari sektor pekerjaan yang paling terdampak antara lain hospitality (85 persen), pariwisata (82 persen), tekstil (71 persen), makanan dan minuman (69 persen) serta arsitektur/konstruksi (64 persen) (Ibu Faridah Lim, Country Manager Jobstreet Indonesia).

Tingkat pengangguran meningkat, demikian pula semakin meningkatnya persaingan untuk memperoleh pekerjaan di masa pandemi. Banyak orang bersaing mendapatkan posisi kerja stabil dari segi perekonomian maupun status kepegawaian. Tingginya tingkat persaingan untuk bekerja membuat banyak calon tenaga kerja berusaha sekuat tenaga melewati seluruh tahapan seleksi masuk kerja.

Peran ilmu psikologi dalam dunia kerja antara lain yaitu psikologi personel, cabang kajian psikologi industri/organisasi yang mempelajari tentang perilaku manusia sebagai individu di lingkungan kerja. Dalam psikologi personel dapat dibahas lebih lanjut mengenai proses input (rekrutmen, seleksi, penempatan) → proses transfer (pelatihan, pengembangan, hubungan kerja) → proses output (penilaian kinerja). (APA Dictionary of Psychology)

Pada proses input prinsip dasar yang digunakan adalah perlunya menemukan orang yang tepat untuk jenis tugas yang tepat serta di waktu yang tepat. Oleh sebab adanya perbedaan individu sedangkan tuntutan jabatan pun berbedabeda maka perlu dicari kesesuaian antara kondisi individu serta penempatan sebagai tenaga kerja dalam jabatan tertentu.

Kegiatan Rekrutmen:

  • Menentukan jabatan yang akan diisi
  • Merancang ruang lingkup tugas dan tuntutan jabatan
  • Menentukan kriteria individu untuk mengisi jabatan
  • Membuat iklan lowongan pekerjaan

Kegiatan Seleksi:

  • Seleksi administrasi (surat lamaran, CV, resume, surat lamaran)
  • Pemeriksaan psikologi (tes tertulis, wawancara perilaku, simulasi)
  • Pemeriksaan kesehatan (medical check-up)
  • Wawancara dengan pengguna (user interview) yang bekerja langsung dengan jabatan yang dituju
  • Wawancara dengan pihak manajemen (HR, HC, top management)

Kegiatan Penempatan:

  • On The Job Training
  • Management Trainee (MT)
  • Masa percobaan kerja (probation)
  • Promosi, kenaikan pangkat atau jenjang jabatan
  • Demosi, penurunan pangkat atau jenjang jabatan
  • Rotasi, perpindahan jabatan pada jenjang yang sama
  • Mutasi, perpindahan lokasi pada jabatan yang sama

Salah satu kegiatan yang banyak dikenal secara umum dalam proses input ini adalah pemeriksaan psikologi atau yang lebih sering disebut sebagai psikotes. Pemeriksaan psikologi adalah kegiatan mengukur atau memotret gambaran individu dari segi psikologis melalui serangkaian alat tes psikologi, yang dapat memunculkan gambaran tentang kemampuan berpikir, energi serta motivasi, maupun dinamika kepribadian individu. Jika pemeriksaan psikologi dilakukan pada konteks pekerjaan, maka gambaran individu yang muncul pada hasilnya akan berkaitan dengan pekerjaan atau jabatan yang dituju secara spesifik

Faktor Penyebab

Banyak orang masih salah kaprah beranggapan bahwa psikotes adalah faktor utama penyebab seseorang bisa diterima atau ditolak untuk jabatan tertentu. Pada kenyataannya, psikotes hanya sebagian kecil dari proses input psikologi industri/organisasi yang fungsinya memberikan rekomendasi bagi pengguna. Tentunya pengguna bertujuan menemukan seseorang yang mampu dan mau mengerjakan jabatan tertentu. Melalui rekomendasi tersebut, akan diperoleh gambaran individu dari kondisi psikologis sebagai bahan pertimbangan bagi pengguna dalam memutuskan penempatan seseorang untuk jabatan yang dituju. Penting untuk dipahami bahwa pengambilan keputusan akhir tentang seseorang akan diterima masuk kerja sepenuhnya tetap berada pada pihak pengguna/manajemen.

Proses psikotes untuk keperluan seleksi hampir mirip dan dapat disejajarkan dengan pengambilan foto untuk kartu identitas (KTP, SIM, paspor), dimana kita perlu terlihat resmi dan apa adanya tanpa diberikan filter khusus. Tujuan utamanya bagi kita yang diambil fotonya tentu saja agar lebih mengenali fitur diri yang unik serta membedakan kita dari orang lain, sekaligus memudahkan orang lain agar bisa mengenali ciri khas kita dalam foto identitas itu. Psikotes berfungsi untuk memotret perbedaan individual yang unik dan membedakan seseorang dengan orang lainnya, kemudian mencari kesesuaian profil jabatan yang dituju. Dengan demikian, tidak perlu memaksakan diri jika memang kita tidak memiliki profil yang diinginkan oleh perusahaan sebab itu artinya nanti bisa jadi kita tidak akan optimal mengerjakan tugas di jabatan itu. Dibanding dengan berusaha memanipulasi proses atau hasil psikotes untuk mengubah profil asli kita (mirip dengan memakai filter foto) yang justru membuat kita stres dan berdampak pada kesehatan mental kita saat bekerja.

Tips menghadapi/menyelesaikan

  1. Identifikasi diri dengan mengenali kekuatan dan kelemahan Anda. Tingkatkan kekuatan dan sebisa mungkin perbaiki kelemahan (misal, jika senang berinteraksi namun cepat bosan dengan hal rutin maka sebaiknya melamar sebagai Staf Pemasaran dan bukannya jabatan Staf Keuangan).
  2. Tunjukkan bahwa Anda mau dan mampu bekerja di jabatan yang dituju.
  3. Jadi diri Anda sendiri apa adanya, tidak perlu dikurang-kurangi atau dilebih-lebihkan sesuai dengan kebutuhan tuntutan jabatan.
  4. Bangun kesan yang baik melalui penampilan: kebersihan, kerapihan, kesesuaian dengan situasi resmi → pilihan pakaian (baju, celana, rok, gaun, jaket), riasan, aksesoris (tas, sepatu, topi, perhiasan), kondisi tubuh (rambut, kuku, bau badan).
  5. Tunjukkan potensi diri paling optimal → muncul ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi dengan baik: istirahat cukup, makan-minum cukup, kondisi badan sehat, pikiran jernih, emosi tenang.
  6. Datang lebih awal supaya bisa mempersiapkan diri lebih tenang.
  7. Kesiapan dokumen pribadi dan alat tulis
  8. Situasi resmi dalam psikotes sebaiknya disikapi dengan serius sekaligus santai. Ikuti arahan dan jika ingin bertanya, lakukan saat ada kesempatan.
  9. Tumbuhkan rasa percaya diri dan semangat optimis.
  10. Berikan respon dengan jujur sekaligus bijak tanpa perlu manipulasi data.

Pesan Penutup

Menemukan pekerjaan yang tepat sama seperti proses mencari jodoh. Ada sejumlah tahapan yang perlu dilalui, kadang tiap orang bisa berbeda jumlah dan keragamannya. Tiap individu punya keunikan masing-masing, sehingga kita perlu menemukan jodoh yang tepat untuk merasa nyaman dan bahagia. Kalau memang sudah berjodoh, sebanyak serta sesulit apapun rintangannya pasti akan mudah saja mengalir menjalaninya tanpa memaksakan diri untuk menjadi seseorang yang bukan diri kita.