8 Tanda Hubunganmu "Toxic Relationship"

Minggu, 28 Februari 2021

Made Ayu Wahyuning Prativi, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Setiap hubungan percintaan mengharapkan adanya kebahagiaan dan saling bertumbuh. Didalam hubungan percintaan seharusnya melibatkan saling perhatian, menghormati satu sama lain, memberikan kasih sayang, memiliki minat yang kuat untuk membahagiakan pasangannya, dan memiliki kendali yang sama dalam pengambilan keputusan. Namun, sayangnya hal tersebut tidak berlaku dalam suatu hubungan percintaan sehingga muncul keraguan apakah pasangan memliki cinta yang sama atau tidak. Membiarkan perilaku kekerasan fisik maupun psikis yang dilakukan oleh pasangan sebagai sesuatu yang wajar dengan alasan cinta dan mampu menerima pasangan apa adanya. Toxic Relationship dapat diartikan sebagai suatu hubungan percintaan yang ditandai dengan perilaku pasangan yang secara emosional dan fisik sering merusak satu sama lainnya.  Hubungan percintaan yang diharapkan memberikan pertumbuhan pada satu sama lain malah menjadi menghambat atau mengalami kemunduran diberbagai hal.

Toxic Relationship dapat ditandai dengan rasa tidak aman, egois, keinginan untuk mendominasi, dan selalu memberikan kontrol terhadap pasangan. Terdapat 8 hal yang bisa digunakan untuk melihat hubungan percintaan yang dijalani masuk kedalam Toxic Relationship antara lain:

Bila terdapat salah satu atau beberapa hal diatas, kemungkinan besar berada dalam Toxic Relationship. Seseorang yang mampu bertahan dengan hubungan percintaan seperti ini dapat disebabkan karena memiliki harga diri yang rendah atau tingkat kepercayaan diri yang rendah. Harga diri yang rendah sering kali membuat seseorang menjadi kecanduan terhadap daya tarik yang ditawarkan oleh pasangannya karena memiliki ketakutan akan kehilangan tempat untuk bergantung baik bagi pelaku maupun korbannya.

Untuk dapat terlepas dari keadaan hubungan percintaan yang seperti ini perlu untuk menyadari tanda-tanda diatas. Hal tersebut membantu untuk dapat mengetahui kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki oleh diri maupun pasangan terlepas dari jumlah cinta yang dimiliki oleh masing-masingnya. Penerimaan bahwa hal tersebut terjadi di dalam hubungan percintaan dapat mempermudah untuk melihat realitas. Cari informasi dan support system dengan cara bercerita kepada orangtua, keluarga, sahabat, media sosial, maupun bantuan tenaga profesional seperti psikolog untuk mengembangkan sudut pandang yang berbeda. Bila ingin bertahan menjalani hubungan dengan pasangan yang sekarang, keinginan dan kesadaran untuk berubah harus dimiliki oleh kedua belah pihak. Akan tetapi bila merasa lebih baik untuk berpisah, lakukan komunikasi yang baik dengan menjelaskan kondisi hubungan berdasarkan informasi yang dikumpulkan sehingga dapat diterima untuk kebaikan bersama.

Beranikan diri untuk dapat memberikan kesejahteraan psikilogis yang lebih baik terhadap diri.

 

“Cinta yang sesungguhnya adalah membangun rasa saling berkembang bukan membangun keinginan untuk menguasai orang yang disayangi sebagai hak milik.”
Made Ayu Wahyuning Prativi, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Psikolog Pradnyagama